Selasa, 17 November 2009

Perkembangan Individu dan Assesmen

Perkembangan Individu dan Assesmen
(Tugas Perkembangan, Assesmen Perkembangan Individu, Hasil Riset Assesmen Perkembangan Individu/ATP/ITP)

Penyusunan program bimbingan dan konseling di Sekolah dimulai dari kegiatan assesmen, atau kegiatan mengidentifikasi aspek-aspek yang dijadikan bahan masukan bagi penyusunan program tersebut. Kegiatan asessmen ini meliputi (1) asessmen lingkungan, yang terkait dengan kegiatan mengidentifikasi harapan Sekolah dan masyarakat (orang tua peserta didik), sarana dan prasarana pendukung program bimbingan, kondisi dan kualifikasi konselor, dan kebijakan pimpinan Sekolah; dan (2) asessmen kebutuhan atau masalah peserta didik, yang menyangkut karakteristik peserta didik, seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, minat-minatnya (pekerjaan, jurusan, oloh raga, seni, dan keagamaan), masalah-masalah yang dialami, dan kepribadian; atau tugas-tugas perkembangannya, sebagai landasan untuk memberikan pelayanan bimbingan dan konseling. Program bimbingan dan konseling di Sekolah dapat disusun secara makro untuk 3-5 tahun, meso 1 tahun dan mikro sebagai kegiatan opersional dan untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan khusus.
Temuan penelitian dari Kartadinata, S. dkk. (1996-1999) menunjukan bahwa program Bimbingan dan Konseling di sekolah akan efektif apabila didasarkan kepada kebutuhan nyata dan kondisi objektif peserta didik. Merujuk pada hasil penelitian tersebut, maka untuk memudahkan konselor mengembangkan program Bimbingan dan Konseling di sekolah, dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengembangan perangkat lunak ATP siswa. Penelitian ini juga dirancang dalam upaya peningkatan mutu layanan dan manajemen Bimbingan dan Konseling di sekolah.
Proses penelitian ini diawali dengan penyusunan instrumen, yaitu ITP sebagai upaya untuk melakukan need assesment. Fungsi Assesmen adalah untuk memperoleh informasi yang lengkap sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan program pembelajaran bagi anak . sedangkan yang dimaksud dengan ITP (inventori tugas perkembangan) adalah instrumen yang digunakan untuk memahami tingkat perkembangan individu. Perumusan ITP didasarkan pada hasil penelaahan terhadap tugas-tugas perkembangan para peserta didik di semua jenjang pendidikan. Data yang diperoleh melalui ITP dianalisis melalui ATP (Analisis tugas perkembangan) yang merupakan program aplikasi komputer (software) yang digunakan khusus untuk memberikan skor dan melakukan analisis tingkat perkembangan siswa yang dibimbing, baik secara individual maupun kelompok. Dengan ATP hasil ITP lebih mudah dan lebih cepat diolah serta ditafsirkan, sehingga ITP dan ATP merupakan satu paket instrumen yang sangat bermanfaat bagi konselor.
Salah satu pemanfaatan utama hasil ITP dan ATP adalah pengembangan rancangan tujuan program Bimbingan dan Konseling di sekolah. Pengembangan rancangan tujuan ini dilakukan melalui prosedur sebagai berikut.
1. mengkaji profil perkembangan peserta didik untuk setiap jenjang pendidikan. Tinkat perkembangan secara aktual yang tergambarkan di dalam profil dan tingkat perkembangan tertinggi yang diharapkan dicapai peserta didik dalam setiap jenjang pendidikan dijadikan dasar bagi perumusan tujuan perkembangan. Tujuan perkembangan adalah rumusan generik perilaku yang diharapkan dicapai peserta didik dalam setiap wilayah perkembangan untuk setiap jenjang pendidikan. Rumusan tujuan ini menggambarkan tingkat perkembangan ’tertinggi’ yang dikonseptualisasikan sebagai tinkat perkembangan yang diharapkan dicapai pada setiap jenjang pendidikan.
2. perumusan tujuan dinyatakan dalam tujuan-tujuan setiap jenjang pendidikan, dengan mengacu pada esensi dan mutu perilaku dari tingkat perkembangan ’tertinggi’ untuk setiap jenjang pendidikan dimaksud. Dengan mengacu pada konsep dan asil temuan di lapangan, yang dituangkan ke dalam profil perkembangan, maka tujuan-tujuan bimbingan dan konseling dipetakan dalam jenjanga sebagai berikut.
a. Sekolah dasar, rumusan tujuan mengacu pada tingkat Sadar Diri
b. SLTP, rumusan tujuan mengacu pada tingkat Saksama
c. SLTA, rumusan tujuan mengacu pada tingkat Individualistik
d. Perguruan Tinggi, rumusan tujuan mengacu pada tingkat Otonomi.
3. Pencapaian tujuan perkembangan melalui proses bimbingan dan konseling merupakan proses perkembangan itu sendiri. Untuk memberikan dasar yang kokoh dan sistematik di dalam pengembangan program bimbingan dan konseling, setiap tujuan perkembangan yang dirumuskan atau digambarkan sebagai suatu proses internalisasi perilaku yang dituangkan ke dalam tiga tahap internalisasi berikut.
a. Tahap Pengenalan, yaitu pengembangan perilaku dalam tataran kognitif yang mengarahkan pada pemerolehan informasi.
b. Tahap Akomodasi, yaitu pengembangan perilaku dalam afektif yang mengarah pada pembentukan apresiasi, menghargai, memahami, menghayati dan menerima.
c. Tahap Tindakan, yaitu pengembangan perilaku dalam tataran perilaku nyata dalam konteks kehidupan nyata maupun lingkungan yang lebih luas.
Aplikasi ITP dan ATP dalam pengembangan rancangan program Bimbingan dan konseling menuntut keterampilan untuk mengadministrasikannya. Oleh karena itu, konselor seyogyanya memiliki pemahaman dan kemampuan yang komprehensif dalam mengaplikasikan ITP dan ATP tersebut.

Referensi:
Yusuf, Syamsu dan Juntika. Aplikasi ITP dan ATP dalam Pengembangan Rancangan Tujuan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. 2003. Jurnal Bimbingan dan Konseling.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar